Pertanyaan:
Manakah yang lebih besar pahalanya: mengajarkan (menghafalkan -pent.) Al-Qur’an, menyebarkan ilmu syar’i, atau memberikan layanan (membuka pengobatan atau ruqyah) secara gratis? Mohon urutkan amalan-amalan tersebut berdasarkan besarnya pahala
Jawaban:
Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
Pada mulanya, kami mengucapkan selamat kepadamu atas perhatianmu terhadap tema seperti ini. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan taufik kepadamu dalam setiap kebaikan.
Para ulama memang berbeda pendapat tentang amalan yang paling utama setelah ibadah-ibadah wajib. Sebagian berpendapat bahwa yang paling utama adalah menuntut dan menyebarkan ilmu, sebagian lainnya berpendapat jihad, dan ada pula yang berpendapat salat (sunah).
Adapun Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa hal tersebut berbeda-beda sesuai dengan kondisi individu dan situasi yang dihadapi. Sebagaimana beliau jelaskan dalam kitab Minhajus Sunnah, bahwa keutamaan suatu amalan tidak bersifat mutlak sama bagi setiap orang, tetapi dapat berbeda sesuai kebutuhan dan maslahat yang lebih besar,
“Dan tiga perkara ini —salat, ilmu, dan jihad— adalah amalan yang paling utama berdasarkan kesepakatan umat.
Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Amalan sunah yang paling utama adalah jihad.’
Asy-Syafi’i berkata, ‘Amalan sunah yang paling utama adalah salat.’
Sedangkan Abu Hanifah dan Malik bin Anas berpendapat, ‘(Yang paling utama adalah) ilmu.’
Dan pendapat yang lebih tepat adalah bahwa masing-masing dari tiga amalan ini saling membutuhkan yang lainnya. Terkadang yang satu lebih utama pada suatu kondisi, dan yang lainnya lebih utama pada kondisi yang lain. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifah beliau melakukan semua amalan tersebut—ini, ini, dan ini—masing-masing pada tempatnya sesuai dengan kebutuhan dan maslahat.” [Selesai]
Beliau rahimahullah berkata dalam Majmu‘ al-Fatawa,
“Adapun pertanyaan yang engkau ajukan tentang amalan paling utama setelah kewajiban, maka hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan masing-masing orang dan apa yang sesuai dengan kondisi waktunya. Oleh karena itu, tidak mungkin diberikan jawaban yang rinci dan mencakup untuk setiap orang.
Akan tetapi, di antara hal yang hampir menjadi kesepakatan para ulama yang mengenal Allah dan perintah-Nya adalah bahwa senantiasa berzikir kepada Allah merupakan amalan terbaik yang dapat menyibukkan seorang hamba secara umum.” [Selesai]
Berdasarkan hal tersebut, maka perbandingan keutamaan antara amalan-amalan yang engkau sebutkan serta pengurutannya tidak memiliki jawaban yang tetap. Akan tetapi, keutamaannya bergantung pada waktu dan kondisi pelakunya.
Terkadang mengajarkan Al-Qur’an atau menyebarkan ilmu lebih utama dalam kondisi tertentu, dan terkadang pula menangani (mengobati) orang sakit lebih utama dalam kondisi lainnya. Demikian pula seluruh bentuk ibadah sunah lainnya—keutamaannya bisa berbeda-beda sesuai dengan keadaan.
Dan setiap kali seorang muslim mampu menggabungkan beberapa niat dalam satu amalan, maka itu akan semakin besar pahalanya. Disebutkan dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Al-Ghazali rahimahullah,
“Ibadah-ibadah itu berkaitan dengan niat, baik dalam hal sahnya maupun dalam pelipatgandaan pahalanya.
Adapun dari sisi asal (keabsahan), maka seseorang harus berniat dalam amalnya semata-mata untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Jika ia berniat riya’, maka amal tersebut berubah menjadi maksiat.
Adapun dalam hal pelipatgandaan pahala, maka hal itu terjadi dengan banyaknya niat-niat yang baik. Satu amalan bisa diniatkan untuk berbagai kebaikan, sehingga seseorang mendapatkan pahala dari setiap niat tersebut. Karena setiap niat adalah kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat sebagaimana disebutkan dalam hadis.
Inilah cara memperbanyak niat. Maka qiyaskanlah hal ini pada seluruh ibadah dan bahkan perkara mubah. Tidak ada satu ibadah pun kecuali dapat mengandung banyak niat. Niat-niat tersebut hadir dalam hati seorang mukmin sesuai dengan kesungguhannya dalam mencari kebaikan, semangatnya, dan perenungannya.
Dengan cara inilah amal-amal menjadi suci dan pahala dilipatgandakan.” (Selesai, dengan sedikit penyesuaian)
Wallahu a’lam.
Baca juga: Amalan-Amalan yang Paling Dicintai Allah
***
Penerjemah: Fauzan Hidayat
Artikel Muslimah.or.id
Sumber: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/304849/
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.