Peristiwa hijrah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat merupakan peristiwa bersejarah yang di dalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Salah satunya adalah tentang cinta tanah air. Pada artikel ini, akan kami bahas tentang hijrah Nabi dan tanah air.
Peristiwa hijrah ke Madinah ini merupakan peristiwa yang menunjukkan besarnya rasa cinta Nabi Muhammad terhadap tanah kelahiran beliau, Makkah Al-Mukarramah. Akan tetapi, besarnya rasa cinta beliau tidaklah mencegah beliau untuk tetap berhijrah agar agama Islam tetap tegak.
Dari peristiwa hijrah ini, bisa kita pelajari bahwa Islam sangat mengakui naluri manusia yang mencintai tanah airnya, tanah kelahirannya, tanah tempat ia tumbuh dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Akan tetapi, rasa cinta tersebut tetap ada batasannya ketika bertentangan dengan syariat.
Hijrah Nabi menunjukkan kecintaan Nabi terhadap tanah kelahirannya
Hijrah merupakan hal yang berat bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa demikian? Tentu karena beliau mencintai Makkah, tanah kelahirannya. Peristiwa hijrah sudah dikabarkan kepada Nabi sejak awal-awal beliau diutus menjadi Rasul. Peristiwa tersebut terjadi ketika beliau bersama istri tercintanya, Khadijah, bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Hal tersebut dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,
قال ليتني أكون حيا إذ يخرجك قومك، فقال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم – أَو مُخْرِجِيَّ هم؟!، قال نعم، لم يأت رجل قط بمثل ما جئت به إلا عودي، وإن يدركني يومك أنصرك نصرًا مؤزرًا
(Waraqah) berkata, “Seandainya saya masih hidup tatkala kaummu mengursirmu (dari Makkah).”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah mereka benar-benar mengusirku?”
Waraqah bin Naufal Menjawab, “Benar, Tidak ada seorang pun yang membawa risalah sebagaimana engkau, kecuali ia akan dimusuhi. Jika aku masih hidup di hari tersebut, sungguh aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga.” (HR. Bukhari)
Perhatikanlah pada hadis di atas ketika beliau mendengar kabar dari Waraqah bin Naufal, beliau berkata,
أَو مُخْرِجِيَّ هم؟
yang artinya, “Apakah mereka benar benar mengusirku?” Perkataan tersebut bukan meragukan kabar dari Waraqah, tetapi menggambarkan betapa berat dan menyedihkannya bagi Nabi untuk meninggalkan Makkah.
Ketika Nabi hijrah, beliau pun berkata,
وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ
“Demi Allah, sesunguhnya engkau (Makkah) merupakan tanah di bumi Allah yang paling baik dan negeri yang paling dicintai Allah. Jika saja aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan pergi.” (HR. Tirmidzi)
Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ! وَمَا أَحَبَّكِ إِلَيَّ! وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
“Sungguh engkau (Makkah) adalah negeri yang paling baik! Betapa cintanya aku kepadamu! Jika saja kaumku tidak mengusirku, aku tidak akan tinggal di tempat lain.” (HR. Tirmidzi)
Itulah di antara hadis yang menunjukkan besarnya rasa cinta Nabi terhadap tanah kelahirannya ketika beliau hijrah ke Madinah. Ketika tiba di Madinah, Nabi melihat kondisi Abu Bakar dan Bilal sakit. Beliau pun berdoa,
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.” (HR. Bukhari)
Seindah-indahnya tanah perantauan, tanah air tetap tidak tergantikan. Oleh karena itu, Rasulullah pun berdoa agar beliau dan para sahabat bisa mencintai Madinah seperti mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.
Para sahabat pun mencintai Makkah
Selain Rasulullah, para sahabat pun tentunya memiliki rasa cinta yang sama terhadap tanah kelahirannya. Hal tersebut tercermin dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu ’anhu,
يا أبت كيف تجدك؟ فقال كل امرئ مصبَّح في أهله والموت أدنى من شِراك نعله قالت: فقلت: والله ما يدري أبي ما يقول، ثم دنوت من عامر بن فهيرة فقلت: كيف تجدك يا عامر؟ فقال لقد وجدت الموت قبل ذوقه إن الجبان حتفُه من فوقه كل امرئ مجاهد بطَوقه كالثور يحمي جلده بِرَوقه قالت: فقلت: والله ما يدري عامر ما يقول، قلت وكان بلال إذا أقلع عنه الحمى اضطجع بفناء البيت، ثم يرفع عقيرته صوته ويقول ألا ليت شعري هل أبيتن ليلة بواد وحولي إذخر وجليل وهل أَرِدَنْ يومًا مياه مجنة وهل يَبْدُوَنْ لي شامة وطفيل
“Wahai Ayah, bagaimana keadaanmu?”
Beliau menjawab dengan syair, “Setiap orang masih berada di tengah keluarganya pada pagi hari, padahal kematian lebih dekat kepadanya daripada tali sandalnya.”
Aku berkata, “Demi Allah, ayahku tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.”
Kemudian aku mendekati Amir bin Fuhairah dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Amir?”
Ia menjawab dengan syair,
“Sungguh aku telah merasakan bayangan kematian sebelum benar-benar mengalaminya.
Orang yang pengecut, kematiannya pasti akan menjemputnya.
Setiap orang berjuang sesuai dengan kemampuannya,
sebagaimana seekor banteng melindungi tubuhnya dengan tanduknya.”
Aku berkata, “Demi Allah, Amir pun tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya.”
Kemudian Aisyah berkata, “Apabila demam Bilal mulai mereda, ia berbaring di halaman rumah, lalu mengangkat suaranya seraya bersyair,
‘Ah, seandainya aku tahu, apakah suatu malam nanti aku dapat bermalam kembali di sebuah lembah, sementara di sekelilingku tumbuh tanaman idzkhir dan jalil.
Akankah suatu hari nanti aku dapat mendatangi mata air Majannah? Akankah Gunung Syamah serta Gunung Tufail kembali tampak di hadapanku?’” (HR. Bukhari)
Hadis di atas menggambarkan betapa sulitnya para sahabat yang harus berhijrah menuju Madinah.
Hijrah tetap dipilih walaupun berat
Dari hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya, bisa kita simpulkan bahwa hijrah ke Madinah merupakan hal yang berat bagi Nabi dan para sahabat. Akan tetapi, mereka tetap melakukannya. Mengapa demikian? Tentu karena mereka lebih mencintai Allah dan mengutamakan agama di atas rasa cinta mereka terhadap tanah air.
Hal tersebut dikarenakan tidak mungkin mereka menegakkan agama Islam tanpa berhijrah karena tekanan dari penduduk Makkah ketika itu. Akhirnya, mereka pun harus memilih berhijrah. Allah Ta’ala juga berfirman tentang keutamaan berhijrah,
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapati di muka bumi ini banyak tempat hijrah dan rezeki yang luas. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menjemputnya, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)
Hikmah hijrah Nabi dan cinta tanah air
Dari kisah hijrah Nabi, kita bisa mengambil beberapa hikmah yang bisa kita pelajari tentang cinta tanah air. Di antara hikmah hijrah Nabi dan cinta tanah air tersebut adalah:
Bersyukur bisa tinggal di tanah air
Salah satu hal yang patut kita syukuri saat ini adalah nikmat bisa tinggal di tanah air yang tercinta, dan tidak ada pilihan yang harus memaksa kita untuk memilih salah satu, agama atau tanah air. Tidak seperti Nabi dan para sahabat yang lahir di tanah yang memusuhi dakwah Islam ketika itu, sekarang ini kita hidup di negara dengan mayoritas penduduknya adalah muslim.
Agama jadi prioritas utama
Ketika dalam kehidupan kita harus memilih salah satu antara agama atau selainnya, tentu kita utamakan agama. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat ketika hijrah. Mereka meninggalkan tanah kelahiran yang mereka cintai demi tegaknya agama Islam.
Berdakwah dan memperbaiki masyarakat
Salah satu bukti nyata kita mencintai negeri kita adalah dengan berdakwah dan memperbaiki masyarakat. Ketika kita melihat negeri kita mulai rusak dan keburukan mulai bertambah, tugas kita adalah berdakwah dan berusaha memperbaiki masyarakat sebagaimana yang Rasulullah lakukan. Beliau tidak langsung diperintahkan untuk berhijrah ketika mendapatkan gangguan dari para penduduk Makkah.
Mari kita berusaha sesuai dengan kadar kita untuk memperbaiki negeri kita tercinta sesuai dengan kemampuan dan peran kita masing-masing. Mari kita perbaiki masyarakat, sebarkan ilmu, berdakwah dengan hikmah, dan sabar dalam berdakwah. Rasulullah berdakwah di Makkah dengan penuh permusuhan dari kaum Quraisy selama 13 tahun sebelum akhirnya berhijrah.
Mendoakan kebaikan untuk negeri
Jangan lupa untuk selalu mendoakan kebaikan untuk negeri. Ingat, ketika para sahabat mengalami rasa berat ketika berhijrah ke Madinah, Rasulullah berdoa,
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.” (HR. Bukhari)
Lalu apa yang terjadi? Allah kabulkan doa Rasulullah, Allah jadikan Madinah tanah air kedua bagi Nabi dan para sahabat, Allah buat mereka mencintai Madinah dan jadilah Madinah Al-Munawwaroh kota yang merka cintai. Oleh karena itu, jangan lupa bagi kita untuk mendoakan kebaikan bagi negeri kita yang tercinta.
***
Penulis: Firdian Ikhwansyah
Artikel Muslim.or.id
Sumber: Islamweb.net
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.