Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, bahkan penyubur semangat dalam melakukan kebaikan. Seorang anak merasa dihargai ketika dipuji oleh orang tuanya. Seorang murid semakin giat belajar ketika mendapatkan apresiasi dari gurunya. Begitu pula seorang muslim akan semakin termotivasi ketika kebaikannya disupport dan dihargai oleh saudaranya.
Namun, Islam datang dengan bimbingan yang indah. Islam tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi mengajarkan adab dan batasannya. Karena pujian yang tepat dapat menjadi sarana pendidikan, sedangkan pujian yang berlebihan dapat menjadi racun yang merusak hati. Oleh karena itu, seorang muslim perlu memahami seni menyanjung sesuai tuntunan syariat agar pujian yang diberikan menjadi jalan kebaikan, bukan sebab munculnya kesombongan.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ
“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis di atas, kita mengetahui bahwa terdapat makna yang sangat dalam mengapa pujian yang berlebihan diibaratkan seperti memenggal leher seseorang. Tatkala seseorang terus-menerus dipuji, bisa jadi hatinya berubah. Yang awalnya tawadhu’ menjadi ujub, yang awalnya rendah hati menjadi merasa hebat. Padahal, kesombongan merupakan dosa yang sangat berbahaya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)
Oleh karena itulah, ketika kita ingin memuji anak, murid, pasangan, teman, atau siapa pun, hendaknya memperhatikan beberapa adab berikut
Baca juga: Larangan Berlebihan dalam Memuji
Pertama, luruskan niat
Pujian dalam Islam bukanlah alat untuk menjilat, mencari muka, atau memperoleh keuntungan duniawi. Pujian hendaknya diberikan dengan niat yang baik, seperti memotivasi seseorang agar semakin semangat dalam beramal saleh, menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, atau mendorongnya untuk mempertahankan kebaikannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan tujuan memotivasi beliau.
نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل. قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا
“Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.” Salim berkata, ‘Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikanlah, pujian Nabi bukanlah pujian kosong. Pujian tersebut menjadi sebab Abdullah bin Umar semakin semangat beribadah dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.
Kedua, nisbatkan kelebihan itu kepada Allah
Misalnya, ketika anak mendapatkan nilai terbaik, kita dapat berkata, “Alhamdulillah, Allah memberikan kepadamu kecerdasan dan kemudahan belajar. Teruslah bersyukur kepada-Nya.” Atau “MasyaAllah, itu adalah karunia dari Allah Ta’ala ya, nak.”
Dengan demikian, pujian tidak melahirkan ujub, tetapi justru menumbuhkan rasa syukur. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Allah Ta’ala juga mengingatkan,
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)
Ayat ini mengajarkan bahwa ketika melihat suatu kelebihan dan keberhasilan, hendaknya kita mengembalikannya kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada kemampuan manusia.
Ketiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)
Pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat merusak jiwa. Seseorang bisa menjadi ketagihan terhadap pujian, merasa dirinya istimewa, lalu sulit menerima nasihat dan kritik.
Pujian itu seperti permen. Dalam jumlah yang cukup ia menyenangkan, tetapi jika berlebihan justru mendatangkan penyakit. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ
“Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar melontarkan pujian berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)
Maksud hadis di atas adalah memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan memuji secara berlebihan dan tanpa kebutuhan. Jika memang perlu memuji, pujilah sesuai kenyataan. Sebutkanlah kelebihan yang benar-benar ada pada dirinya.
Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorang
Kita boleh memuji seseorang berdasarkan apa yang tampak dari amal dan akhlaknya. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa ia pasti termasuk penghuni surga atau orang yang paling bertakwa di sisi Allah. Karena hakikat hati manusia hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.
Ketika ada seseorang yang dipuji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan bahwa hendaklah ia mengucapkan,
أَحْسِبُ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا
“Aku mengira si fulan demikian dan demikian, dan Allah-lah yang akan menghisabnya. Aku tidak berani menyatakan seorang pun suci di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah adab yang sangat agung. Kita menyebutkan kebaikan seseorang berdasarkan apa yang kita ketahui, namun tetap menyerahkan penilaian hakiki kepada Allah Ta’ala.
Pujian yang sesuai syariat adalah pujian yang mendidik, bukan yang merusak. Ia lahir dari niat yang tulus, mengarahkan hati kepada Allah Ta’ala, disampaikan secara proporsional, dan tidak melampaui batas dengan menyucikan manusia.
Betapa banyak hati yang tumbuh karena apresiasi yang tepat, dan betapa banyak pula hati yang rusak karena sanjungan yang berlebihan. Oleh karena itu, hendaknya kita belajar menyanjung sebagaimana Islam mengajarkannya.
Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dalam memuji dan menjaga hati kita ketika dipuji. Aamiin.
Baca juga: Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?
***
Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya
Artikel Muslim.or.id
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.