Keutamaan keempat: Allah mendekat kepada para hamba-Nya
Di dalam hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang telah lalu disebutkan,
وإنَّه لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ، فيَقولُ: ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟
“Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)
Makna sabda Nabi (وإنَّه لَيَدْنُو) maksudnya Allah turun ke langit dunia, dan mendekat kepada hamba-Nya di Arafah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah. Kita meyakininya tanpa mempertanyakan bagaimananya, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menyelewengkan maknanya, dan tanpa menolaknya. Turun dan mendekatnya Allah kepada orang yang wukuf di Arafah merupakan rahmat Allah yang berdampak banyak kebaikan dan keberkahan. Turunnya rahmat Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kedatangan seorang sahabat yang bertanya kepada beliau tetang pahala bagi orang yang wukuf di Arafah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وأما وقوفك بعرفة، فإن الله تبارك وتعالى ينـزل إلى سماء الدنيا، فيباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاؤوا شعثًا غبرًا من كل فج عميق، يرجون رحمتي، ويخافون عذابي، ولم يروني، فكيف لو رأوني، فلو كان عليك مثل رمل عالج، أو مثل أيام الدنيا، أو مثل قطر السماء ذنوبًا، غسلها الله عنك
“Adapun wukuf di Arafah yang engkau lakukan, sesungguhnya pada hari itu Allah turun ke langit bumi, dan Dia membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikat-Nya, dengan berkata, ‘Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang dengan rambut kusut dan berdebu dari setiap penjuru yang jauh, mengharapkan rahmat-Ku, dan takut akan azab-Ku, padahal mereka belum pernah melihat-Ku. Maka, bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Jika dosa-dosamu sebanyak butiran pasir atau sebanyak hari-hari di dunia, atau sebanyak tetesan hujan di langit, niscaya Allah akan menghapus semuanya darimu.” (HR. Ath-Thabrani no. 13566, hasan)
Keutamaan kelima: Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan para malaikat
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً
“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata, “Lihatlah keadaan hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.” (HR. Ahmad no. 8047, sahih)
Dan telah berlalu hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
ثُمَّ يُبَاهِي بهِمُ المَلَائِكَةَ
“Dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim no. 1348)
Ini merupakan keutamaan yang agung bagi ahli Arafah, bahwa Allah Rabbul ‘aalamiin membanggakan mereka di hadapan penduduk langit, yaitu para malaikat yang mulia, sementara sejatinya Allah tidak butuh terhadap hamba-Nya, tidak butuh haji dan doa-doa mereka. Allah Ta’ala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ١٥اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ ١٦i وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ ١٧
“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika berkehendak, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.“ (QS. Fathir: 15-17)
Allah dengan kesempurnaan-Nya yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk ternyata membanggakan ahli Arafah di hadapan para mailakat, sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka.
Penyebutan kebanggaan ini di hadapan para malaikat menunjukkan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya jemaah haji ketika datang dari negerinya, mereka sangat mengharapkan rahmat dari Allah, dan menginginkan kesuksesan dan mendapatkan keridaan dan surga Allah, mendapatkan ampunan dari neraka. Maka Allah memuliakan mereka dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi ketika beliau bersabda tentang jemaah haji yang wukuf di Arafah,
إن الله يهبط إلى سماء الدنيا، ثم يباهي بهم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاءوني شعثا سفعا، يرجون رحمتي ومغفرتي؛ فلو كانت ذنوبهم كعدد الرمل، وكعدد القطر، وكزبد البحر، لغفرتها، أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له
“Allah turun ke langit dunia dan membanggakan mereka kepada para malaikat, seraya berkata, “Ini adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan lusuh dan berdebu, mengharapkan rahmat dan pengampunan-Ku. Sekalipun dosa mereka sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, dan sebanyak buih di laut, Aku akan mengampuni mereka. Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)
Keutamaan keenam: Allah mengabulkan doa bagi ahli Arafah
Sesungguhnya Allah Ta’ala mengabulkan orang yang berdoa kepada-Nya dan memberi orang yang meminta kepada-Nya bagi orang yang wukuf di hari yang agung ini. Hal ini diterangkan dalam hadis Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟
“Apa yang mereka inginkan?‘” (HR. Muslim no. 1348)
Allah bertanya kepada para malaikat-Nya, “Apa yang mereka inginkan?“ Padahal Allah lebih tahu tentang mereka dan lebih tahu tentang apa yang ada di hati mereka. Akan tetapi, Allah bertanya seperti itu agar mereka bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan, sehingga Allah bisa mengabulkan permintaan mereka. Oleh karena itu, setelahnya Allah berfirman,
اشْهدوا ملائكتي أني قد غفرت لهم
“Bersaksilah, wahai malaikat-malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Lihat dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib no. 1154)
Bahkan sesungguhnya Allah Ta’ala, di antara bentuk pemuliaan dari-Nya kepada ahli Arafah, maka Allah menerima syafaat mereka bagi orang-orang yang meminta kepada-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam hadis,
أفيضوا عبادي مغفورا لكم، ولمن شفعتم له
“Pergilah, wahai hamba-hamba-Ku, dalam keadaan telah diampuni dosa-dosa kalian dan juga orang-orang yang kalian beri syafaat kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)
Oleh karena itu, hari Arafah adalah hari terbaik sepanjang tahun untuk berdoa dan bermunajat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.“ (HR. Tirmidzi no. 3585, shahih)
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dalam hadis ini terkandung fikih bahwasannya doa pada hari Arafah lebih utama dibandingkan yang lainnya, dan dalam hadis ini terdapat dalil bahwasanya doa di hari Arafah secara umum akan dikabulkan semuanya.“
Hendaknya para jemaah haji pada hari ini benar-benar berdoa kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan dan bahwa Allah tidak akan menolak permintaan-Nya, dan tidak memutus harapan-Nya. Maka berdoalah pada saat itu dengan ikhlas disertai dengan kejujuran meminta kepada Allah, dan memohon disertai dengan berprasangka baik dengan Allah yang Mahamulia.
‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mendatangi Sufyan Ats-Tsauri pada hari Arafah dan beliau sedang di atas tunggangannya, dan air matanya menetes. Aku pun menangis dan beliau pun menghampiriku seraya berkata, “Apa yang engkau lakukan?” Aku pun menjawab, “Siapakah orang yang paling jelek keadaannya yang berkumpul di hari ini?“ Maka Sufyan menjawab, “Orang yang menyangka bahwasanya Allah tidak akan mengampuinya.”
Keutamaan ketujuh: Hari Arafah adalah hari yang paling agung dalam setahun untuk mempermalukan setan
Dari Thalhah bin ‘Ubaidillah bin Kuraiz rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ
“Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina, dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar.“ (HR. Malik no. 944)
Setan murka dan sedih dengan apa yang akan terjadi pada hari itu berupa pembebasan budak, turunnya rahmat, dan pengampunan dosa. Namun ia kembali dengan kecewa, kalah, dan takluk.
[Selesai]
***
Penerjemah: Adika Mianoki
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari kitab Fadhai-lu Yaumi ‘Arafah, karya Syekh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Badr hafidzahullah.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.