Kedua, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan bid’ah (perkara-perkara baru dalam agama)
Di antara prisnsip manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai beliau melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri, kedua orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia, serta mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan mengikuti (ittiba’) sunah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan seluruh perkara bid’ah, perkara-perkara baru dalam agama, dan khurafat. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Jauhilah perkara-perkara baru dalam agama. Sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap segala bentuk bid’ah dalam agama. Sebab, bid’ah bukan sekadar amalan baru, tetapi merupakan penyimpangan dari ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah senantiasa berusaha berpegang teguh kepada sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dengan berpegang teguh kepada sunah dan menjauhi bid’ah, seorang muslim akan tetap berada di atas jalan yang lurus.
Di sisi lain, Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak bersikap berlebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak berlebihan terhadap kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka tidak menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Allah dalam ibadah.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw dan orang-orang musyrik. Mereka mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah, memohon pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdoa kepadanya ketika menghadapi kesulitan, dan berharap agar beliau memenuhi kebutuhan mereka setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang seperti ini banyak di tengah manusia hingga hari ini, bahkan jauh lebih parah.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah menempatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan kedudukannya. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan ketika memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah. Oleh karena itu, katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Al-Bukhari no. 3445)
Ucapan (عَبْدُ اللَّهِ) merupakan bantahan terhadap orang-orang yang mengangkat beliau melebihi kedudukannya sebagai hamba (al-‘ubudiyyah) kepada kedudukan ketuhanan (al-uluhiyyah).
Penyebutan beliau sebagai hamba Allah selain membantah keyakinan orang-orang yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia dan hamba Allah. Di antara bentuk berlebih-lebihan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti meyakini bahwa beliau mengetahui seluruh perkara gaib secara mutlak, mampu mengabulkan doa, mampu mendatangkan manfaat dan mudarat, atau memiliki sifat-sifat yang hanya menjadi kekhususan bagi Allah ‘Azza wa Jalla.
Sementara itu, ucapan (رَسُولُهُ) merupakan bantahan terhadap orang-orang yang meremehkan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengikuti sunahnya, dan lebih memilih mengikuti hawa nafsu mereka.
Penyandaran beliau sebagai utusan-Nya menunjukkan bahwa seluruh ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari wahyu Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau tidak menyampaikan Islam berdasarkan hawa nafsunya, tetapi menyampaikan apa yang diwahyukan Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya. Oleh sebab itu, menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hakikatnya adalah menaati Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan mendurhakai beliau berarti mendurhakai Allah ‘‘Azza wa Jalla. Inilah konsekuensi keimanan kepada kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ucapan ini juga menjadi bantahan terhadap berbagai kelompok yang mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi enggan menjadikan sunah beliau sebagai pedoman hidup. Mereka lebih mendahulukan logika, filsafat, tradisi, pendapat tokoh, atau perasaan daripada nash Al-Qur’an dan Sunah yang sahih. Padahal, kecintaan yang benar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus diwujudkan dengan ittiba’ (mengikuti) sunah beliau, bukan sekadar pengakuan di lisan semata.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Jika mereka tidak memenuhi seruanmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 50)
Maka, manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengagungkan beliau, menghormati beliau, memuliakan beliau, mencintai beliau, dan mengikuti beliau. Akan tetapi, mereka tidak berlebihan dalam memuliakan beliau sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan terhadap Isa putra Maryam ‘alaihis salam.
Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah manhaj pertengahan dan adil terhadap hak-hak dan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak meremehkan hak beliau, tidak merendahkan beliau, dan tidak pula berlebihan terhadap beliau. Beliau adalah makhluk yang paling mulia, pemimpin seluruh anak Adam, penutup para Nabi, dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi yang tidak dapat dicapai oleh siapa pun. Akan tetapi, beliau tetap merupakan hamba Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak memiliki sedikit pun sifat rububiyyah maupun uluhiyyah.
Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibangun di atas dua landasan yang agung, yaitu ittiba’ tanpa meremehkan dan mahabbah tanpa berlebih-lebihan. Mereka mengimani bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, sehingga seluruh hak beliau ditunaikan sebagaimana yang telah Allah tetapkan. Mereka mencintai beliau melebihi kecintaan kepada diri sendiri dan seluruh manusia, memuliakan beliau, membela kehormatan beliau, membenarkan seluruh berita yang beliau sampaikan, menaati seluruh perintah beliau, menjauhi seluruh larangan beliau, serta tidak beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla kecuali dengan syariat yang beliau bawa.
Namun, pada saat yang sama mereka tidak mengangkat beliau berada pada kedudukan yang menjadi kekhususan Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak memberikan kepada beliau sedikit pun hak rububiyyah maupun uluhiyyah. Inilah jalan pertengahan yang ditempuh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu berada di antara sikap ghuluw yang mengangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kedudukan sebagai seorang hamba dan sikap jafa’ yang meremehkan beliau dengan meninggalkan sunahnya. Dengan manhaj inilah, seorang muslim dapat merealisasikan kecintaan yang benar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu kecintaan yang dibangun di atas ilmu, ittiba’, dan tauhid yang murni.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 3
***
Penulis: Chrisna Tri Hartadi
Artikel Muslim.or.id
Sumber:
Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 20–22.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.