Di era digital ini, tercipta sebuah dunia baru yang berlangsung bersamaan dengan alam nyata: dunia maya. Banyak orang yang jenuh dengan dunia realita, kemudian membangun kehidupan barunya di dunia maya. Asalnya, media sosial digunakan sebagai cerminan kehidupan nyata; tetapi bagi sebagian orang, hal ini dijadikan media membangun citra. Sebagian ada yang kehidupan realitanya sesuai dengan media sosialnya, tetapi juga tidak sedikit yang berkebalikan 180 derajat. Atau sebagian lagi justru memiliki citra yang berbeda-beda di setiap tempat yang ia temui. Di sirkel pertemanan A menjadi persona yang demikian, di sirkel kehidupan B menjadi persona lainnya.
Pada asalnya, seorang muslim memang hendaknya memiliki citra yang baik, sebagaimana Nabi ﷺ demikian. Dalam Al-Quran, Allah ﷻ berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam: 4)
Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,
فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنَ
“Sesungguhnya akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 746)
Rasulullah ﷺ dikenal oleh komunitas masyarakat sebagai orang yang saleh sejak kecil. Ketika dewasa dan telah menerima wahyu, akhlak tersebut semakin ditekankan, sampai disamakan dengan seluruh akhlak yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Artinya, Rasulullah ﷺ memiliki personal branding yang istimewa, yakni orang yang berakhlak mulia.
Mengapa penting memiliki citra diri yang baik?
Karena Islam melekat di nama setiap muslim. Umumnya, manusia akan melihat nilai suatu agama dari karakter setiap pemeluk agama tersebut. Muslim adalah representasi keislaman, orang Indonesia adalah representasi nilai keindonesiaan, dan seterusnya. Hanya segelintir orang yang mampu membedakan secara sempurna antara nilai-nilai agama, dengan pemeluknya, terutama bagi non-pemeluknya.
Representasi nilai Islam di tubuh seorang muslim ini juga disiratkan dalam hadis Nabi ﷺ,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Tirmidzi no. 2134)
Akhlak yang mulia menjadi elemen penting bagi seorang muslim untuk berdakwah. Baginda Nabi ﷺ dan para Nabi lainnya memiliki keistimewaan akhlak yang mulia. Salah satu hikmah indahnya adalah para musuh dakwah tidak bisa mencela Nabi ﷺ dengan alasan buruknya akhlak. Dan tidak sekadar diakui oleh satu-dua orang, tetapi akhlak mulia ini menjadi persona yang dikenal oleh publik.
Nabi ﷺ juga memotivasi kita untuk berbuat baik, dan menjadikan karakter kita demikian,
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (HR. Abu Daud no. 4682)
Rasulullah ﷺ bersabda,
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting), namun tidak membuatnya patah dan rusak.” (HR. Ahmad, disahihkan oleh Ahmad Syakir)
Nabi ﷺ juga terkadang menyebutkan amalan dirinya dalam rangka memberikan keteladanan,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِيْ.
‘Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.’ (HR. Tirmidzi no. 3895)
Baca juga: Perempuan sebagai Content Creator
Sebagian amalan perlu disyiarkan
Selain itu, syariat kita juga memiliki kategori amal yang menuntut pada partisipasi publik. Salah satu contoh terbesar dari amalan publik adalah salat berjemaah lima waktu bagi kaum muslimin dan salat yang ditekankan berjemaah lainnya. Aspek syariat lainnya juga memperhatikan pentingnya citra yang baik, di antaranya hikmah dari disatukannya salat Jumat dan Id pada masjid jami’ suatu daerah adalah agar menunjukkan kekuatan dan besarnya kaum muslimin.
Syiar lainnya adalah merayakan hari raya, menebar kegembiraan di hari tersebut dan juga hari-hari istimewa lainnya seperti Ramadan dan sepuluh malam spesial. Kita juga disunahkan untuk menyiarkan pernikahan agar lebih banyak orang yang tahu bahwa status kita sudah menikah. Islam juga memerintahkan kita untuk mensyiarkan haji, dan ini adalah syiar cinta sekaligus penghambaan kepada Allah ﷻ. Bahkan syiar ini telah berlangsung berabad-abad lamanya.
Menimbang kebaikan influencer saleh dan risikonya
Berdasarkan argumen ini, kita bisa menyimpulkan bahwasanya ada sisi-sisi syariat yang perlu untuk ditunjukkan ke publik. Sisi-sisi syariat ini berupa akhlak mulia yang harus benar-benar melekat di pribadi seorang muslim, juga amalan-amalan yang perlu ditunjukkan kepada khalayak ramai. Namun, apakah mutlak demikian?
Perlu kita ketahui, Islam adalah agama wasath, yakni pertengahan dalam segala perkara, termasuk dalam perkara mencitrakan diri. Argumen ini dimulai dari bahwasanya begitu banyak amalan manusia yang diperintahkan untuk disembunyikan. Umumnya, amalan yang bersifat sunah dianjurkan untuk dirahasiakan. Bahkan seluruh amalan hati juga diperintahkan untuk dirahasiakan.
Ada banyak risiko dari memamerkan amalan, di antaranya:
Rusaknya niat ikhlas di hati
Manusia itu asalnya menyukai pujian dan kedudukan. Nabi ﷺ kategorikan pujian sebagai kabar gembira bagi manusia.
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنْ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ قَالَ تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ
[Abu Dzar] dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, ‘Bagaimana menurut anda tentang seseorang yang beramal kebaikan, lalu orang-orang pun memuji kepadanya?’ Beliau menjawab, “Itulah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang Mukmin.” (HR. Muslim no. 4780)
Namun, dalam banyak riwayat, Nabi ﷺ memperingatkan bahwa pujian itu asalnya adalah hal yang sangat berbahaya. Nabi ﷺ mengkiaskan pujian sebagai penggalan leher. Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari bapaknya,
أَنَّ رَجُلًا ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَثْنَى عَلَيْهِ رَجُلٌ خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” وَيْحَكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ – يَقُولُهُ مِرَارًا –
Ada seseorang berada di dekat Nabi ﷺ. Lalu ada orang lain yang memuji-muji orang tersebut, maka Nabi ﷺ bersabda, “Celaka engkau! Engkau telah menebas leher kawanmu.” – Nabi mengulang kata tersebut berulang kali – (HR. Bukhari no. 6061 dan Muslim no. 3000)
Seorang influencer yang memiliki personal branding yang baik sangat dekat dengan pujian manusia. Sehingga tantangannya sangat berat sekali. Alasan mengapa pujian itu seperti memenggal, karena seseorang diibaratkan telah memenggal amalannya dan dirinya sendiri. Seseorang sudah bersusah payah beramal, lalu terkena pujian yang membuat dirinya ujub, akhirnya amalnya sia-sia. Bukan hanya sekadar sia-sia, ia pun terdorong untuk menjadi pribadi riya. Karena pujian itu membuat ketagihan. Apabila seseorang sudah sampai taraf ketagihan akan pujian, maka ini bisa menjerumuskan orang kepada gangguan kepribadian narsistik.
Ingat! Amalan yang tidak lagi ikhlas maka tidak akan diterima oleh Allah ﷻ. Karena Allah ﷻ hanya menerima yang murni karenanya dan terbebas dari noda kesyirikan.
Pandangan hasad manusia yang dapat menghancurkan rencana kebaikan
Seseorang yang membangun citra baik, umumnya juga berkaitan dengan menunjukkan amal saleh kepada khalayak ramai. Tidak hanya amal saleh yang sudah dilakukan, tetapi juga amal saleh yang direncanakan. Maka, risiko pandangan hasad orang kepada pelaku amal saleh tersebut sangatlah besar.
Nabi ﷺ memperingatkan tentang bahaya ain,
أكثرُ مَن يموت بعدَ قضاءِ اللهِ وقَدَرِهِ بالعينِ
“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ain.” (HR. Al-Bazzar dalam Kasyful Astar [3: 404], dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no.1206)
Menurut para ulama, sumber utama ain adalah pandangan mata orang yang hasad atas keutamaan dari segi kedudukan maupun amal yang dilakukan oleh objek ain. Maka, inilah risiko besar dari seseorang yang menunjukkan kebaikannya ke khalayak publik.
Betapa banyak kisah yang bisa kita nukil berkaitan hal ini, semisal ketika Sahl bin Unaif terkena ain dari salah satu saudaranya, yakni Amin bin Ar-Rabiah yang memuji kulit mulusnya. Tidak hanya dampak penyakitnya yang berat, proses penyembuhannya juga susah. Maka, apalagi dengan keadaan orang yang membagikan kebaikannya yang rawan ditujukan pandangan hasad di media sosial. Betapa luas jangkauannya?! Bagaimana seseorang bisa menyembuhkan penyakit ain, jika naudzubillah terkena hasad dari para penontonnya?! Oleh karena itu, dalam perkara ini perlu menjadi perhatian pula.
Kurangnya kadar pahala
Lihatlah metode penyampaian Allah ﷻ berkaitan dengan ayat sedekah,
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 271)
Allah ﷻ lebih mengutamakan pahala amalan yang dirahasiakan dibandingkan amalan yang ditunjukkan. Bukan Allah ﷻ bilang amalannya tidak baik, tetapi ada amalan yang lebih utama dibandingkan menampakkannya. Maka, hal ini menunjukkan adanya perbedaan nilai pahala dari amalan tersebut.
Dalam dalil lainnya, Allah ﷻ dan Rasul ﷺ banyak memotivasi untuk menyembunyikan amal. Dari Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
سَمِعْتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إنَّ الله يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الغَنِيّ الْخَفِيَّ
“Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, merasa cukup dengan pemberian Allah Azza wa Jalla, dan tersembunyi’.”
Salah satu maksud dari “tersembunyi” adalah sebagaimana penjelasan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ …وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ..
“Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah Ta’ala di bawah naungan-Nya (pada hari kiamat)… salah satunya: seorang laki-laki yang bersedekah, kemudian merahasiakan amalan tersebut sampai tangan kirinya tidak mengetahui yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1423)
Para salaf pun sangat bersemangat menyembunyikan amal karena nilainya yang istimewa. Salah satunya adalah perkataan Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu,
مَنِ اسْتَطَاعَ أن تَكُوْنَ لَهُ خَبِيْئَةٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ
“Siapa yang mampu memiliki amal saleh yang rahasia, maka hendaknya ia melakukannya.” (Silsilah Ash-Shahihah no. 2313)
Dari pemaparan di atas, maka sebelum orang terjun membangun citra diri baik, perlu bagi seseorang untuk mengilmui perkara tersebut. Pengetahuan terpenting berkaitan hal ini adalah tentu saja maslahat dan mudarat yang dapat diketahui dari kaidah-kaidahnya.
Baca juga: Kaidah Menjadi Influencer dan Membangun Personal Branding
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.