Al-Quran dan As-Sunah mengandung petunjuk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua pertanyaan dan kebingungan telah terjawab oleh keduanya, atau ditunjukkan jalan kepada jawaban oleh keduanya. Inilah esensi Al-Quran sebagai hudan lil muttaqin (هدى للمتقين) atau petunjuk bagi orang yang bertakwa. Semua hal yang samar menjadi terang di sisi orang yang bertakwa dan menggunakan wahyu Allah ﷻ sebagai pegangannya. Tentu Al-Quran dan As-Sunah pun telah memiliki keterangan dalam permasalahan bukti keberadaan Tuhan sebagai fundamen keimanan. Namun, ia membutuhkan kepada kaidah dalam penggunaannya, sehingga artikel ini hadir untuk membantu kita semua dalam memanfaatkan Al-Quran dan As-Sunah sebagai petunjuk jalan.
Kelima: Tidak menyimpangkan teksnya maupun maknanya
Allah ﷻ menurunkan wahyu-Nya, khususnya Al-Quran, dengan penjagaan yang spesifik dan ketat sekali. Terbukti kita mendapatkan riwayat yang lengkap dari Al-Quran dengan sangat jelas, termasuk keragaman qiraah atau pembacaannya, semuanya diketahui. Apalagi jika kita bandingkan dengan kitab-kitab agama lainnya, maka dari segi validitasnya, Al-Quran unggul jauh. Oleh sebab itu, tidak layak kemurnian Al-Quran dinodai dengan penyelewengan, baik dari segi teks maupun makna.
Praktik ini terjadi sejak zaman para ulama terdahulu. Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya mengubah firman Allah ﷻ,
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nûr [24]: 35)
Mereka mengubahnya menjadi,
اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Allâh menerangi langit dan bumi.”
Allah musta’an! Mungkin kita sebagai orang non-Arab mengira bahwa secara huruf tidak ada yang bertambah. Namun, keberadaan tasydid itu sama dengan menambah satu huruf. Tidak hanya sekadar penambahan satu huruf, tetapi juga perubahan makna yang diakibatkannya. Ketahuilah, ini adalah perbuatan Yahudi!
وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada sekelompok orang yang menggunakan lisan-lisan mereka untuk mengubah-ubah Al-Kitab (Taurat dan Injil) supaya kamu menyangka itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab. Dan mereka mengatakan, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 78)
مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah”; sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisa’ [4]: 46)
Al-Qadhi Iyadh menerangkan konsekuensi dari menambah atau mengurangi satu huruf Al-Quran, beliau berkata, “Barangsiapa yang dengan sengaja mengurangi satu huruf atau mengganti satu huruf dengan huruf lain, atau dengan sengaja menambahkan huruf lain yang tidak termasuk dalam mushaf yang disepakati dan ada kesepakatan bahwa itu bukan bagian dari Al-Qur’an, maka ia telah kafir.” (Asy-Syifa, 2: 304-305)
Tentu yang lebih banyak lagi adalah mereka yang menyelewengkan makna dari Al-Quran. Sebagian besar dari mereka melakukan ini dibarengi dengan cocokologi untuk menerangkan fenomena yang ada. Padahal tidak ada tuntutan buat seseorang untuk menjelaskan segala sesuatu dengan Al-Quran maupun sunah secara spesifik. Dalam perkara yang bersifat duniawi, telah jelas nash-nya,
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2741, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Fenomena alam yang terjadi tidak semuanya termaktub dalam Al-Quran dan sunah. Ada saja fenomena alam itu yang terjadi sebagai bentuk sunnatullah. Memang demikianlah Allah ﷻ menciptakan keteraturan sebagai ayat atau tanda-tanda bagi orang yang berakal.
اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Namun, hal itu semua tidak termaktub secara detail di dalam kedua wahyu yang sampai kepada kita. Beberapa pendakwah Islam menyebutkan kaidah,
“Al-Quran bukanlah kitab science (pengetahuan), melainkan kitab signs (tanda-tanda).”
Pembahasan cocokologi akan lebih mendalam dibahas pada poin selanjutnya.
Keenam: Tidak melakukan cocokologi tanpa dasar ulumul quran dan ulumul hadits yang dikenal oleh para ulama otoritatif
Masalah cocokologi adalah bagian dari menyelewengkan makna. Termasuk pula ia ke dalam bab berbicara tentang agama Allah ﷻ tanpa ilmu.
Allah ﷻ berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)
– اتَّقوا الحديثَ عنِّي إلَّا ما علِمتُمْ فمَن كذبَ عليَّ مُتعمِّدًا فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ ، ومَن قال في القرآنِ برأيِّهِ ، فليتَبوَّأْ مَقعدَهُ مِن النَّارِ
“Berhati-hatilah dalam membicarakan tentangku kecuali apa yang kalian ketahui. Barangsiapa yang sengaja berdusta tentangku, maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951, dinilai hasan)
Ketujuh: Wajib ada ulama yang lebih dahulu mengatakan apa yang anda katakan
Ibnu Wahb rahimahullah berkata, “Siapapun penghapal hadis yang tidak memiliki imam dalam masalah fikih, maka ia tersesat.”
Perkataan ini dibawakan oleh Ibnu Wahb seorang muhaddits, murid dari Imam Malik dan Imam Laits rahimahumullah. Ia seorang alim yang menguasai hadis, tetapi potensi tersesat itu tetap saja ada jika tidak ada imam atau guru yang paham akan agama keseluruhan dalam membimbingnya. Maka, apalagi kita sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama?
Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan berkaitan dengan berbicara perkara tanpa ada imam sebelumnya, salah satu dampaknya adalah,
من قال في مشكل القرآن بما لا يعرف من مذهب الأوائل من الصحابة والتابعين فهو متعرض لسخط الله
“Barang siapa yang berpendapat pada permasalahan Al-Qur’an dengan (pendapat) yang tidak diketahui oleh ulama generasi awal dari para sahabat dan tabi’in, maka ia sedang mengarah kepada kemurkaan Allah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 1: 46)
Jangan menyangka diri otoritatif untuk membicarakan perkara agama sebelum benar-benar mempelajarinya dan mendapatkan pengakuan oleh orang yang selevel atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Perhatikanlah ungkapan berikut agar kita semua sadar tentangg perkara ini. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
مَنْ سَامَ بِنَفْسِهِ فَوْقَ مَا يُسَاِوي رَدَّهُ اللهُ تَعَالَى إِِلَى قِيْمَتِهِ
“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 1: 13)
Esensi mempelajari cara menggunakan dua wahyu sebagai argumen keberadaan Tuhan
Pembaca budiman! Keadaan di zaman ini menuntut kita untuk lebih mengilmui agama kita. Khususnya dalam perkara mendasar yang menjadi pondasi beragama. Salah satu pembahasaan krusial tersebut adalah argumentasi keberadaan Tuhan. Sejatinya manusia telah lahir dengan fitrah untuk meyakini adanya sosok maha hebat yang meliputi kemampuan mencipta, memiliki, dan mengatur seluruh alam semesta. Inilah yang menjadi pondasi iman tauhid tentang rububiyah Allah. Maka, pembahasan ini bukanlah hal yang dapat diremehkan atau dianggap terlalu mendalam. Melainkan ini adalah bentuk pembekalan bagi diri kita untuk menghadapi terjangan syubhat pemikiran di zaman ini.
Pedoman yang kami susun bertujuan sebagai bahan pembelajaran bagi kami pribadi maupun Anda semuanya dalam menyusun argumentasi tentang adanya Tuhan. Sejatinya ini adalah kaidah yang umum dalam berdalil menggunakan Al-Quran dan As-Sunnah. Namun, kami pilih beberapa yang sekiranya sangat relevan dan juga spesifik dengan keadaan dialog eksistensi Tuhan.
[Selesai]
KEMBALI KE BAGIAN 2
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.