Khotbah pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
أَمَّا بَعْدُ
عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ
Kaum Muslimin, jemaah sidang Jumat rahimakumullah,
Setiap kali bulan Agustus tiba, ingatan kolektif kita kembali ditarik pada lembaran sejarah perjuangan bangsa ini keluar dari cengkeraman penjajahan fisik. Di mana-mana merah putih berkibar, hiasan-hiasan dipasang di sepanjang jalan, dan sorak-sorai perlombaan terdengar di gang-gang kampung. Namun, di balik megahnya pesta tahunan ini, sudahkah kita meletakkan kemerdekaan ini pada timbangan syariat yang jujur? Ataukah perayaan kita justru diisi dengan kemaksiatan yang dibungkus dengan slogan nasionalisme?
Panglima pasukan Islam, Rabi’ bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, pernah mendefinisikan hakikat kemerdekaan dengan sangat luar biasa di hadapan Rustam, jenderal tertinggi Persia,
اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِيُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ وَحْدَهُ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ
“Allah mengutus kami untuk memerdekakan siapa saja yang Dia kehendaki; dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.” (Kitabun ilal Islam min Jadid, hal. 63)
Merdeka yang sejati dalam pandangan Islam adalah ketundukan total di bawah aturan Allah, bukan kebebasan tanpa batas untuk memperturutkan hawa nafsu. Mustahil sebuah negeri bisa tegak berdiri di atas pilar yang amanah jika rakyatnya masih menjadi budak syahwat, budak dunia, dan abai terhadap aturan Rabbnya.
Maka, bagaimana langkah konkret kita untuk membangun negeri yang amanah ini dari bawah? Bukan dengan sekadar sibuk mencaci maki keadaan di media sosial, minimal kita hadirkan tiga langkah sederhana yang bisa kita usahakan:
Pertama, jaga makan kita dari hal-hal yang haram
Membangun negeri yang bersih tidak dimulai dari merombak kabinet di istana, melainkan dari apa yang kita sajikan di atas meja makan rumah kita sendiri. Kita kerap berteriak lantang mengutuk korupsi para pejabat di televisi, namun di saat yang sama, kita menyuapkan makanan ke mulut anak-istri kita dari hasil timbangan yang dikurangi, waktu kerja kantor yang dikorupsi, atau proyek-proyek syubhat yang kita manipulasi.
Bagaimana mungkin kita mengharapkan lahirnya generasi pemimpin yang amanah, jika mereka kita beri makan dari darah dan daging yang tumbuh dari barang haram? Nabi ﷺ bersabda,
كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 614, disahihkan oleh Al-Albani)
Harta haram adalah penghalang utama terkabulnya doa sebuah bangsa. Ingatkah kita akan hadis tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku!” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Nabi ﷺ menegaskan,
فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)
Jika doa-doa kita untuk negeri ini tidak terijabah juga, jangan-jangan karena perut kita masih dikotori dengan harta yang tidak halal. Langkah nyata pertama adalah bertobat, memastikan setiap suap nasi yang masuk ke rumah kita adalah murni dari tetesan keringat yang halal. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Kedua, tanamkan nilai kejujuran dalam diri kita
Kita sering mengeluhkan rusaknya sistem di negeri ini. Namun, sistem itu tidak berjalan sendiri; ia digerakkan oleh manusia. Menjaga negeri berarti berkomitmen menolak khianat dalam muamalah harian kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang paling depan menuntut hak, namun menjadi orang yang paling lihai mengelak saat harus menunaikan kewajiban. Allah Ta’ala memberikan peringatan keras kepada mereka yang curang dalam transaksi,
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menimbang)! Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi; dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)
Amanah dalam bekerja adalah harga mati bagi seorang mukmin. Ketika kita menandatangani kontrak kerja, sepakat atas sebuah transaksi dagang, atau menerima suatu jabatan, di sana ada janji di hadapan Allah yang harus kita pertanggungjawabkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)
Setiap kebohongan, manipulasi laporan, menyogok demi kelancaran urusan, atau mengambil hak orang lain adalah bentuk pengrusakan (fasad) yang dilarang keras oleh Allah,
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56)
Rasulullah ﷺ bahkan mengeluarkan dari golongannya mereka yang mencari keuntungan dengan jalan menipu,
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim no. 102)
Sebaliknya, jika kita bersikap amanah dan jujur dalam berdagang atau bekerja, Allah menjanjikan kedudukan yang luar biasa mulia di akhirat kelak,
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan para syuhada.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, disahihkan oleh Al-Albani)
Ketiga, hadirkan kepedulian kebaikan untuk sesama (amar makruf nahi munkar)
Kerusakan terbesar sebuah bangsa sering kali bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik. Ketika kita melihat judi online merenggut masa depan anak muda di sekitar kita, ketika narkoba merusak tetangga kita, atau ketika pornografi bebas diakses di layar handphone anak-anak tanpa ada pengawasan, lalu kita memilih diam dengan dalih “yang penting keluarga saya aman”, maka saat itulah kita sedang berkontribusi meruntuhkan negeri ini.
Jika sebuah kapal bocor dan kita membiarkan pelaku melubanginya demi ego “kebebasan”, maka seluruh isi kapal akan tenggelam bersama, termasuk kita yang hanya diam menonton. Allah Ta’ala memuji umat ini sebagai umat terbaik hanya jika kita mau peduli dan bergerak mencegah kemungkaran,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa napas utama tegaknya agama dan kehidupan sosial adalah ketulusan dalam saling menasihati,
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama itu adalah nasihat (ketulusan).” (HR. Muslim no. 55)
Jangan biarkan sikap acuh tak acuh mencabut keberkahan dari negeri kita. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah memperingatkan umat ini tentang bahaya berdiam diri melihat kezaliman dan kemaksiatan di sekitar mereka. Beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ
“Sesungguhnya jika manusia melihat seorang pelaku kezaliman (atau kemaksiatan) namun mereka tidak mencegahnya dengan tangan mereka (tidak berusaha menghentikannya), hampir saja Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semua.” (HR. Abu Dawud no. 4338 dan At-Tirmidzi no. 2168, disahihkan oleh Al-Albani)
Jemaah yang dirahmati Allah, marilah kita berhenti menjadi manusia-manusia pasif. Kemerdekaan ini harus diisi dengan kerja nyata, bukan keluhan tak berujung. Mari bersihkan piring makan kita dari yang haram, tegakkan kejujuran di tempat kerja tanpa kompromi, dan peduli terhadap kemerosotan moral di sekeliling kita. Dari langkah kecil inilah, sebuah negeri yang amanah dan diberkahi akan benar-benar terwujud.
أَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ؛ فَاسْتَغْفِرُوهُ، وَتُوبُوا إِلَيْهِ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khotbah kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَعَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وَقَالَ تَعَالَى
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلَى رَعَايَاهُمْ، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِأَيْدِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هٰذَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْفَسَادِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْأُمَنَاءِ الْمُخْلِصِينَ
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ
Baca juga: Makna Kemerdekaan bagi Seorang Muslim
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.